BELAJAR MENCINTA DAN MEMBENCI - TALBIYAH CINTA (14)

BELAJAR MENCINTA DAN MEMBENCI - TALBIYAH CINTA (14)


Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal mungkin ia baik untukmu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia sangat buruk bagimu.
(Al Baqarah: 216)

Begitu serius pesantren mempagari kami dari kemungkinan pengaruh buruk. Begitu sayangnya pesantren memeluk kami hingga bukan hanya pengaruh buruk yang diantisipasi, bahkan baru kemungkinan pengaruh buruk sudah diperangi. Terdapat bermacam pemeriksaan dan razia rutin di pesantren. Kami mengenalnya sebagai ’Taftisy’. Sebulan sekali ada taftisy sya’r: pemeriksaan rambut gondrong. Ada taftisy sirwal: pemeriksaan celana dan pakaian yang tidak etis untuk kultur pesantren. Ada taftisy kutub: pemeriksaan kepemilikan buku untuk santri akhir. Dua tahun terakhir menjelang kami lulus ada kebijakan taftisy shohn: pemeriksaan piring. Setiap santri harus dipastikan mempunyai piring sendiri agar alokasi waktu makan terpenuhi dengan tepat.

Karena bernama taftisy, peristiwanya selalu insidentil dan tak terduga sehingga suasana yang tercipta selalu dramatis setingkat razia SIM dan STNK. Di antara yang paling dramatis dan cenderung mencekam adalah taftisy shunduq: pemeriksaan lemari. Sesungguhnya yang kami miliki bukan lemari, tetapi sekedar kotak kayu tempat menyimpan pakaian dan buku. Maka tidak dinamakan taftisy khizanah, melainkan taftisy shunduq. Pemeriksaan ini tidak hanya mencekam, bahkan menakutkan terutama bagi santri yang memiliki benda-benda terlarang dan belum sempat menyembunyikan. Kebijakan ini hanya dilaksanakan dua kali dalam setahun. Biasanya beberapa saat setelah liburan pertama dan kedua. Karena dilaksanakan setelah liburan, misi taftisy ini jelas: menjaring benda dan apapun yang tidak sejalan dengan nafas pendidikan di pesantren. Berbeda dengan taftisy lainnya, pemeriksaan lemari ini dilakukan serempak dan massal di bawah komando langsung Pimpinan Pesantren. Hari pemeriksaan lemari seperti hari kiamat, tak seorang santri tahu kapan dilaksanakan.

Berbagai jenis benda terjaring. Sebagian besar kami mengerti, sebagian kami maklumi dan selebihnya tak kami pahami. Mengerti untuk poster artis wanita, gambar porno, walkman, radio, kamera, alat elektronik, senjata tajam dan umumnya benda yang kami mengerti sebagai benda terlarang. Memaklumi untuk album keluarga yang ada foto perempuan, benda-benda serupa jimat, komik, novel dan benda-benda sejenis yang lumrah dimiliki tetapi kami maklumi kekhawatiran pesantren atas pengaruh buruknya. Tetapi beberapa jenis benda yang terjaring razia tidak kami pahami hingga kini. Ada poster Valentino Rossy, Ricardo Kaka, Sukarno, Rano Karno dan poster tokoh lainnya.

Apa dosa tokoh-tokoh itu hingga kami tak boleh menyimpan gambarnya? Apa salah kami kalau mengidolakan mereka? Apa bahayanya bila dari mereka kami mendapatkan banyak inspirasi? Hingga bertahun-tahun setelah kami lulus, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab. Kami bingung dan hampir putus asa menemukan jawaban. Di ujung pencarian, kami ambil jalan pintas: pesantren melakukan penjagaan yang berlebihan. Pesantren over-acting, over-protection!

Bertahun-tahun pandangan miring itu kami yakini benar hingga keisengan kami membisikkan jawaban. Di tembok samping televisi rumah kost, kami menuliskan daftar pesohor negeri dalam tiga kategori: TERPUJI, TERCELA DAN TERKUTUK. Dalam daftar terpuji kami menuliskan politikus, pejabat, pembaca berita, artis, olahragawan, pebisnis yang cerdas dan berperilaku terhormat sesuai kriteria kami. Kolom tercela untuk mereka yang berkelakuan buruk atas karir, jabatan, profesi, dan pergaulan. Tempat terkutuk diperuntukkan bagi pesohor negeri yang menurut agama dan norma universal melakukan kejahatan. Di tempat ini tercantum orang-orang terkenal yang berkasus durhaka kepada orang tua, penganiayaan atas keluarga, korupsi, penipuan, perampasan hak orang lain dan kasus-kasus kekejian atas kemanusiaan lainnya.

Kami memperbaharui daftar itu kadang tiap hari, kadang tiga hari atau setiap pekan. Dan inilah hasilnya: tidak ada nama yang permanen di satu kolom. Semua bergeser secara dinamis. Mereka yang semula terpuji tiba-tiba tertangkap berpesta narkoba sehingga harus pindah ke kolom tercela. Mereka yang semula hanya tercela harus bergeser menjadi terkutuk karena ternyata menghamili banyak wanita. Mereka yang lama menjadi terkutuk, pelan-pelan beranjak menjadi hanya tercela oleh pengampunan kami. Mereka yang semula tercela, oleh prestasi yang mencengangkan tiba-tiba kami angkat derajatnya menjadi terpuji.

Demikian, tidak ada artis, politikus atau apapun saja pesohor negeri yang permanen di satu keadaan. Semua dinamis fluktuatif sehingga tak satupun mereka yang layak dijadikan idola. Semua bergerak dan gerakannya menimbulkan konsekwensi-konsekwensi pencapaian baik dan buruk sehingga tidak seorangpun yang absolut terpuji hingga pantas dijadikan figur. Sebaliknya, tidak ada penjahat yang kejahatannya permanen sehingga layak selalu dikutuk. Aha, inilah rahasia razia taftisy shunduq di pesantren: jangan salah menentukan figur dan idola. Tak boleh menyimpan poster siapapun karena tak seorangpun lulus dari kesalahan. Untuk itu tak seorangpun diijinkan menjadi kiblat percontohan. Kita hanya diperbolehkan meniru kebenaran. Dari manapun dari siapapun kebenaran berasal, kita diperintahkan meneladaninya dengan suka cita.

Hanya satu orang yang bertahan menghuni maqam terpuji hingga kini. Belum pernah ia turun ke level tercela apalagi terkutuk. Seorang penyanyi dangdut wanita dengan paras ayu, bodi biola, goyangan maut, pakaian mini transparan, suara seksi; mata, bibir, pipi, dada dan semua miliknya sempurna. Lama kami berdiskusi mengapa artis satu ini tetap bertahan di level terpuji dan kami tak mendapat jawaban. Hingga suatu waktu, tepat ketika rahasia taftisy shunduq itu terbuka, jawaban tentang artis seksi ini ditemukan: ia tetap terpuji karena kami memandangnya selalu dari sudut yang terkutuk. Ternyata ini soal sudut pandang belaka: ia begitu mempesona karena kami melihat dengan mata syahwat.

Astaghfirullah, terkutuklah mata kami. Tetapi subhanallah, indah nian Allah menciptakan artis itu....
Share Product :
Terima kasih Anda telah membaca artikel BELAJAR MENCINTA DAN MEMBENCI - TALBIYAH CINTA (14), Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami dengan memberikan komentar yang bijak di bawah ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Souvenir Pernikahan | Souvenir Ulang Tahun
Copyright © 2013. Lentera Pengetahuan - All Rights Reserved
Responsive by Mas Yadi Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger