MENJADI BOS SEPEKAN - TALBIYAH CINTA (15)

MENJADI BOS SEPEKAN - TALBIYAH CINTA (15)


Mimpi besar akan jadi sia-sia apabila tidak bisa diwujudkan dengan biaya yang masuk akal
(Donald Trump, Miliarder Propreti)


Menjadi bos adalah mimpi banyak orang, termasuk kami. Banyak cara menjadi bos, tetapi yang paling mudah adalah dengan cara menjadi orang kaya. Menjadi bos adalah posisi disegani, dihormati dan didengar. Dan orang kaya otomatis mendapatkan ketiganya. Akhirnya, menjadi kaya itulah mimpi kami. Teori yang kami pelajari tentang menjadi kaya adalah perjalanannya yang berliku dan penuh hambatan. Bila demikian, betapa tidak mudah menjadi bos melalui jalan menjadi kaya. Teori itu menjelaskan dua cara menjadi kaya; pertama, bekerja keras banting tulang berwirausaha; kedua, menjadi menantu orang kaya. Bagi kami, kedua cara itu sama-sama sulit. Berwirasusaha mempersyaratkan keuletan, keterampilan, modal dan yang paling sulit harus bernasib baik. Dua hal pertama adalah sulit, satu hal berikutnya sangat sulit, dan bernasib baik super sulit. Meski sulit, keuletan dan keterampilan mungkin bisa dilatihkan. Modal mungkin bisa diraih walau susah payah, apalagi banyak program bantuan pemerintah bagi wirausahawan pemula. Tetapi bernasib baik? Nampaknya inilah faktor X yang tak kunjung berpihak kepada kami. Nasib empat tahun terakhir cukup memperkuat dugaan itu: Dewi Fortuna enggan bermesraan dengan kami.

Kemudian menjadi menantu orang kaya. Orang miskin mana yang berani bilang, menjadi menantu orang kaya mudah? Apalagi tidak didukung modal fisik yang fantastis untuk PD memacari gadis kaya? Satu-satunya kemungkinan adalah berharap ada orang kaya tetapi bodoh sehingga mau mengambil perantau gagal seperti kami menjadi menantu. Jelaslah, menjadi kaya melalui cara wirausaha atau berharap kawin dengan anak orang kaya, sama-sama jauh panggang dari api. Tidak realistis untuk keadaan kami kala itu.
Di tengah lamunan liar itu, Dadan dan Rosidi datang menyampaikan kesepakatan, ”Hid, siapapun di antara kita yang bisa menyediakan televisi di rumah ini, akan menjadi bos selama seminggu! Boleh memerintah apa saja dan dipanggil ’Tuan’!”.

Televisi kami memang hilang dicuri. Padahal minggu depan putaran final Piala Dunia dimulai. Bisa kiamat nasib kami di Jakarta ini tanpa televisi di tengah kemeriahan Piala Dunia. Di kampung, kami bisa nonton bareng di Poskamling. Tapi di Jakarta? Dengan tetangga samping saja sulit bertegur sapa, apalagi nonton bareng, tentu sulit diwujudkan. Lagi pula apa enaknya nonton sepakbola di rumah tetangga! Memang selalu ada acara nonton bareng, tetapi di cafe-cafe. Dan cafe kapitalis mana yang mau menerima kere? Kami sempat panik. Benar-benar panik. Perhelatan akbar empat tahunan itu bisa-bisa hanya kami akses lewat koran. InsyaAllah akan saya ceritakan hal televisi kami yang dicuri itu lengkap dengan suasana paniknya lebih rinci lain waktu.

Kembali ke tawaran Dadan dan Rosidi. Sangat menarik! Tawaran itu sangat menarik dan menggiurkan. Betapa tidak?

Pertama, tawaran itu adalah jalan pintas meraih mimpi menjadi bos. Di tengah kesimpulan betapa rumit jalan menjadi bos, ada tawaran instan. Kedua, kesepakatannya hanya untuk menyediakan, bukan membeli. Jadi yang penting ada televisi di rumah. Bisa dengan cara meminjam, menyewa atau membeli. Yang penting tidak mencuri. Ketiga, dipanggil ’tuan’ sangat prestisius, meski cuma seminggu. Apalagi ’tuan’ untuk menjadi ’tuhan’ hanya perlu menambahkan huruf ’h’.

Saya langsung setuju usulan kedua maniak bola itu. Terbayang di mata saya, pagi-pagi buta saya bentak-bentak Dadan yang masih molor untuk segera bangun dan menyediakan kopi. Saya rencanakan juga untuk otoriter terhadap Rosidi agar menyiapkan makan pagi, siang dan malam tepat waktu. Sudah tergambar di awang-awang, seluruh kepatuhan kedua ’pembantu seminggu’ itu. Selain mencuci dan mandi, saya hanya akan tinggal memainkan telunjuk jari dan sedikit instruksi. Aha, betapa nikmat rasanya.

Saya tidak mau menyiakan kesempatan emas ini. Saya langsung kontak panitia lelang di sekolah tempat saya bekerja, kemudian menghubungi koperasi. Panitia lelang untuk memesan salah satu televisi kantor terjelek yang dilelang dengan harga termurah. Sedangkan pengurus koperasi untuk mengajukan peminjaman seharga televisi lelang. Dan lancar. Televisi butut berusia enam tahun itu dihargai seratus ribu. Dan uang sejumlah itu langsung saya dapatkan dari pengurus koperasi. Tepat menjelang hari H pembukaan Piala Dunia, televisi telah tersedia di rumah kost tanpa seorangpun tahu dari mana dan bagaimana ia ada.

Aman dan semua skenario berjalan lancar. Yang lebih penting, semua lamunan menjadi bos, nyata adanya. Kedua pembantu saya begitu patuh dan rajinnya. Itulah bos sesungguhnya: tak perlu menggaji, semua yang diingini terpenuhi. Hanya dengan mengakomodir kesenangan menonton televisi, semua titah ditaati. Sekedar menyatakan, ”Kok belum ada makan malam ya?”, Rosidi langsung bergegas menyalakan kompor. Hanya dengan batuk-batuk kecil di pagi buta, Dadan langsung bangun menyiapkan secangkir kopi manis meski dengan sekilas raut muka pahit. Yang paling membanggakan adalah panggilan ’tuan’. Bersungut-sungut mereka memanggil saya ’tuan’ dengan perasaan kecut yang harus disembunyikan. Di depan saya, harus selalu ditampakkan raut muka gembira menjadi pembantu. Itu kesepakatan. Dan itulah sepekan kepahitan bagi mereka tetapi pekan kemenangan bagi saya.

Sepekan berlangsung mulus karena semua rahasia tentang asal-usul televisi tersimpan rapi hingga kini. Biar saja kalau hari ini mereka membaca tulisan ini dan tahu bahwa kesewenang-wenangan saya sepekan itu saya dapatkan dari pinjaman koperasi. Toh, mereka tidak mungkin bisa membalaskannya, kecuali mereka mau pindah ke Banjarmasin tempat saya sekarang bekerja.

Tetapi kemenangan sepekan itu ternyata hanya kebahagiaan sesaat. Selebihnya adalah ketidaknyamanan hingga kini. Menjadi semena-mena ternyata bukan tabiat asli manusia. Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial yang setara. Tuhan hanya menciptakan perbedaan, bukan kasta. Dengan perbedaan itu, Tuhan hanya menginginkan kreasi kebersamaan dan saling melengkapi, bukan stratifikasi. Menciptakan kelas-kelas sosial sesungguhnya sekedar metodologi keilmuan, bukan substansi kehidupan.
Maka betapa menyesal saya memperlakukan kedua kawan itu sebagai pembantu. Seharusnya saya menggunakan sepekan peluang menjadi bos kala itu untuk menunjukkan keunggulan batin dan kesantunan saya. Saya tak perlu menggunakan kesempatan itu dengan cara kampungan, melainkan menunjukkan kearifan untuk bersikap biasa seakan saya tak pernah berbuat jasa untuk mereka. Maafkan saya kawan, dan terimalah penyesalan saya.

Tetapi melihat saat ini mereka sudah menjadi bos di tempat kerja masing-masing, diam-diam saya bangga. Mantan ’pembantu’ saya telah sukses menjadi bos. Sedikit demi sedikit, penyesalan itu urung saya ikrarkan...
Share Product :
Terima kasih Anda telah membaca artikel MENJADI BOS SEPEKAN - TALBIYAH CINTA (15), Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami dengan memberikan komentar yang bijak di bawah ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Souvenir Pernikahan | Souvenir Ulang Tahun
Copyright © 2013. Lentera Pengetahuan - All Rights Reserved
Responsive by Mas Yadi Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger