ALHAMDULILLAH, TELEVISI KAMI HILANG OLEH PENCURI YANG TEPAT - TALBIYAH CINTA (16)

ALHAMDULILLAH, TELEVISI KAMI HILANG OLEH PENCURI YANG TEPAT - TALBIYAH CINTA (16)


Ada tiga kategori mencuri: mencuri karena kelainan jiwa, mencuri atas kehendak kejahatan dan mencuri sebagai pekerjaan. Mencuri kategori pertama adalah penyakit jiwa yang membuat penderitanya kehilangan kontrol diri untuk tidak mencuri. Pencuri jenis ini tidak menginginkan keuntungan materi, melainkan mencari sensasi tegang subyektif untuk merasakan puncak kenikmatannya sesaat setelah mencuri. Pencuri kategori kedua melandasi perilakunya dengan kemauan jahat dan seringkali menggunakan harta curiannya untuk kepentingan jahat pula. Pencuri kategori ini tidak selalu orang yang miskin dan lapar. Ia bisa seorang yang kenyang, tetapi puncak kenyangnya adalah awal rasa lapar yang menyiksa dan rasa lapar itu dipahami sebagai perintah untuk mencuri. Dia bisa saja bukan orang terbelakang, melainkan berpendidikan tinggi tetapi tak pernah mendapatkan pelajaran kebenaran. Pencuri kategori ini hatinya api sehingga mata, telinga, tangan dan kakinya adalah konspirasi membara meraup setiap peluang tanpa pernah merasa kenyang. Otaknya tikus, sehingga mata, telinga, tangan dan kakinya selalu bernaluri mencuri, membunuh, merusak dan menghancurkan.

Yang datang mencongkel jendela kami malam itu adalah pencuri kategori pertama, benar-benar pencuri yang patut dikasihani. Ia mencuri sebatas memenuhi tanggungjawab menafkahi anak istri. Ia mengambil secukupnya. Tidak menginginkan yang di luar kebutuhan. Malam itu dia mengambil televisi kami pasti karena seharian penuh keluar masuk lorong Jakarta dan tidak menemukan secuil harta halal dari pori-pori kapitalis. Kapitalis benar-benar maraup semuanya, menelan segalanya, tanpa sisa, tanpa belas kasihan. Kapitalis mencaplok semua kesejahteraan yang seharusnya menetes ke bawah dan menjadi hak pencuri itu.

Pencuri malang itu adalah pencuri yang sangat bersahaja. Ia pasti mengamalkan hadits Nabi: Makanlah hanya ketika lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang! Hanya televisi dan ’remort control’ di atas karpet yang dibawa. Dua buah HP masing-masing seharga 1,5 juta dibiarkan damai di tempatnya. Justru televisi senilai 500 ribu dibawanya dengan susah payah penuh resiko. Ingatkah Anda, di tengah jarah menjarah Mei 1998 yang lalu, terekam peristiwa pilu serupa: Sekumpulan penjarah memilih memanggul sekarung beras dengan susah payah dan meninggalkan jam tangan, HP dan barang kecil lain bernilai tinggi. Apa yang membuat mereka tidak memilih barang yang mudah dibawa?

Mereka menjarah karena lapar. Bagi rasa lapar, barang paling pas untuk diambil adalah beras. Mereka menjarah bukan karena mereka penjarah. Mereka mencuri bukan karena mereka pencuri. Mencuri televisi seharga 500 ribu mungkin memang laku dosa, tetapi mengenyangkan anak istri pasti tercatat sebagai kebaikan. Menjarah beras memang kesalahan tetapi bagi anak istri, mereka pahlawan. Biarkan Tuhan yang menimbang dosa pencurian dan pahala kepahlawanan. Memang hanya DIA yang sanggup melakukannya dengan tepat.

Pagi itu, sepulang kami dari tempat kerja, terhenyak kami hanya sekejap. Mengumpat kami hanya sesaat. Selebihnya adalah doa-doa semoga para kapitalis segera insyaf dan mengembalikan hak para pencuri kelas teri mendapatkan rejeki. Dengan kelapangan sekelas itu, kami menemukan adegan kasih Tuhan lebih dalam makna: kami mengumpulkan uang untuk mengurangi kesedihan Babe, pemilik televisi itu. Selama ini hanya Babe yang peduli atas televisi itu, membersihkan kacanya, menutupnya dari debu dan merawatnya dengan rutin dan sayang. Sementara kami, hanya bisa menikmati dengan gembira, tidak suka memelihara. Setelah televisi itu hilang, baru kami sadari perannya yang begitu besar. Uang yang terkumpul tidak hanya meredakan sedih Babe. Bagi kami, uang itu adalah bukti kami ikut merasa memiliki. Ironi memang, rasa kepemilikan itu ada setelah barangnya tak ada. Atau memang begitulah tabiat kita: selalu terlambat menyadari arti besar benda-benda di sekeliling kita.

Setelah semuanya normal, kalang kabut kami. Rumah kost dilanda kepanikan luar biasa. Seminggu lagi Piala Dunia digelar. Tanpa televisi, pasti terasa hambar..... (bersambung ke TALBIYAH CINTA (15)
Share Product :
Terima kasih Anda telah membaca artikel ALHAMDULILLAH, TELEVISI KAMI HILANG OLEH PENCURI YANG TEPAT - TALBIYAH CINTA (16), Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami dengan memberikan komentar yang bijak di bawah ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Souvenir Pernikahan | Souvenir Ulang Tahun
Copyright © 2013. Lentera Pengetahuan - All Rights Reserved
Responsive by Mas Yadi Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger